Tentang menghadirkan tanya dan memendam pertanyaan. Aktivitas yang jarang saya lakukan dan sering saya lakukan.

  1. Jarang menghadirkan tanya
  2. Sering memendam tanya

Kronologi kejadian: ketika belajar

  1. Saat materi disampaikan, saya cenderung menerima bulat-bulat apa yang disampaikan guru/dosen. let it flow. Lah wong yang menyampaikan guru/dosen, jadi pasti benar. hmm, padahal bukan itu pointnya. Bertanya bisa membuat orang lebih mudah memahami dan lebih mudah mengingat (apalagi kalau yang ditanya ‘killer teacher’, pasti memorable).
  2. Ketika menemukan hal-hal yang belum saya pahami, masih berat rasanya tangan ini untuk diacungkan lalu mengutarakan beberapa kebingungan kepada yang ditanya.

Berikut alasan-alasan yang membuat saya lebih memilih memendam pertanyaan.

  1. Malu jika diperhatikan
  2. Takut dianggap bodoh
  3. Takut mendapat respon yang tidak baik dari yang ditanya
  4. Mager

Don’t try this at your learning activity yaa teman”. Saya juga sudah mengurangi kedua aktivitas tersebut demi kemashlahatan pribadi dan ummat hhehe. Karena tidak membiarkan diri kita dalam kebodohan termasuk akhlak kita terhadap diri sendiri.

Dan lebih utamanya karena bertanya adalah kunci dari ilmu.

Dari Ibnu Syihab, beliau berkata, “Ilmu itu perbendaharaan-perbendaharaan, dan kunci-kuncinya adalah bertanya.” Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi (1/89)

Saking pentingnya mengenai “bertanya” ini pun, sampai Allah perintahkan di dalam Al-Qur’an.

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (An Nahl: 43)

Jadi, jangan anggap remeh pertanyaan 😀